oleh Reza Levi

I La GaLigo berkeberatan “Tunggu! Jika Dunia Tengah di akhiri sekarang, siapa yang akan ingat legenda Saweriganding? Aku i La Galigo, adalah putranya. Berikanlah aku waktu untuk menceritakan kisah keluargaku dan para dewa.” Maka, mulailah kisahnya
Itulah salah satu prolog cerita I La GaLigo Berlabuh di Makassar. Setelah tujuh tahun lamanya dibawa keliling dunia, kisah I La GaLigo akhirnya dipentaskan di Makassar. Sebelumnya, pementasan karya teater, tari dan musik I La GaLigo pertama kali digelar pada tahun 2003 di Singapura, kemudian berlanjut di kota kota besar dunia, seperti Amsterdam, Madrid, Lyon, Barcelona, Ravenna, New York, Melbourne, Milan dan Taipe di sepanjang tahun 2003 sampai 2008.
Karya teater, tari dan musik I La GaLigo Berlabuh di Makassar ini, di pentaskan di Makassar, di tengah Benteng Rotterdam, salah satu ikon kota Makassar pada hari Sabtu dan Minggu, 23 – 24 April 2011. Lakon I La GaLigo yang di sutradarai oleh Robert Wilson dan diproduseri oleh Restu Irmansari dari Yayasan Bali Purnati,mengambil kisah dari Sureq Galigo, yang merupakan hikayat asal muasal orang Bugis. Ada 100 lebih naskah yang diketahui dengan panjang 6.000 lebih halaman dan menjadikan Sureq GaLigo menjadi sebagai teks atau naskah terpanjang di dunia, lebih panjang dari kisah Mahabharata.
I La Galigo Berlabuh di Makassar, arahan sutradara teater kontemporer Robert Wilson ini merupakan versi dari Robert Wilson sendiri yang di kembangkan dari naskah I La GaLigo dan hanya mengambil sedikit saja bagian dari cerita atau naskah Sureq GaLigo.
Perjalanan dari Sawerigading ini menjadi inti cerita dari pementasan I La GaLigo. Di mulai dari penciptaan Dunia Tengah, perginya Sawerigading meninggalkan tanah kelahirannya di Luwuq (Luwu) dan We Tenriabeng, saudari kembarnya hingga pengembaraan sang putra dewa, untuk mencari cinta yang sempurna dan akhirnya menikahi I We Cudai.
Inti ceritanya adalah pentingnya silsilah yang memicu sebagian besar petualangan gila gilaan tokoh tokoh utamanya dalam upaya mereka menemukan dan menikahi orang orang yang setara dengan darah putih ningrat mereka. Silsilah Sureq GaLigo dimulai dengan dewa-dewa Dunia Atas (Dunia Langit) dan Dunia Bawah (Dunia Laut) yang mengirimkan salah seorang anak mereka mengisi Dunia Tengah (Bumi).
Ratusan petualangan, perang, upacara, sabung ayam, kisah cinta, pernikahan yang rumit, tercantum dihikayat ini mencakup enam generasi keturunan mereka. Di akhir cerita, para dewa mengumpulkan keturunan mereka di Luwuq dan mengirimkan mereka ke Dunia Atas dan Dunia Bawah. Permukaan Dunia Tengah di kosongkan dan disucikan dan tindakan tindakan yang menyerupai awal hikayat diulangi. Anak-anak tokoh utama hikayat dikirim dari Dunia Atas dan Bawah untuk mengisi sebuah dunia baru ini, dunia yang kita kenal sekarang,mulai, namun tanpa campur tangan lagi dari para dewa.
Pementasan teater yang di padu dengan tari dan music untuk pertama kalinya dipentaskan secara outdoor dan terlarang bagi fotografer ini dimainkan dengan durasi 2,5 jam yang dihadiri lebih dari 1000 penonton. Animo masyarakat dalam pementasan ini sangat luar biasa dan tampak pula ada yang kecewa, dikarenakan tiket yang terbatas. Walaupun dengan banyak kekurangan, pementasan ini berhasil dan mendapat sambutan yang positif. Karena pementasan teater, tari dan seni musik ini sanggup menghinoptis para penonton dengan mengemas legenda arkais itu menjadi tontonan kosmopolitan. Kekuatannya ada pada permainan tata cahaya dan artistik, seperti pada saat adegan penciptaan Dunia Tengah (Bumi), dengan gradasi gradasi warna biru. Dan pameran benda benda seni dan sakral juga menjadi daya tarik masyarakat
Tingginya animo dan antusiasme masyarakat menyaksikan pementasan visualisasi karya sastra asli Sulawesi Selatan ini, membuat Pemkot Makassar menjadikannya sebagai pertunjukan tetap, yang rencananya akan menggelar pertunjukan I La GaLigo ini setiap tahun.
catatan : karakter Sariwegading adalah karakter karya danangs













